Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget by ateonsoft.com

Sabtu, 05 Desember 2009

KEADAAN (Soekarno) DIPENDJARA SUKAMISKIN BANDUNG

Sukamiskin, 17 Mei 193

Saudaraku!

Barulah sekarang ada seputjuk surat dari Sukamiskin kepada saudara. Lebih baik saja (dibaca saya) katakana daripada tidak sama sekali saja berkirim surat kepada saudara, karena orang tangkapan seperti matjamku (maksudnya Soekarno) ini hanjalah sekali dalam dua minggu boleh berkirim surat. Dua pekan jang lalu ada djugalah kesempatan bagiku untuk mengirimkan surat, tetapi kesempatan itu saja pakai untuk member kabar kepada isteriku (maksudnya isteri Soekarno), bahwa saja sudah dipindahkan ke Sukamiskin, dan dia boleh datang melihat dan berbitjara dengan saja dua kali dalam sebulan, serta tidak boleh membawa apa-apa sebagai tanda-kasih atau “oleh-oleh” untukku. Berapakah lamanya, tjuma sepuluh menit. Menerima surat bolehlah saja tiap-tiap hari; tentu sahadja diperiksa baik-baik.


Tidak berapa lamanja sesudah masuk kedalam rumah kurungan, maka saja lalu bertukar pakaian dengan pakaian orang kurungan jang berwarna biru; rambutku dipotong hampir mendjadi gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanja. Hampir segala apa jang saja bawa dari rumah tahanan (dikota Bandung) – itu semuanja diambil. Besok harinja hari besar Islam; djadi saja tak perlu bekerdja. Sehari sesudah itu saja mesti pergi berbaris ketempat... membuat kitab tulisan : disanalah saja sampai sekarang meladeni satu daripada mesin garis dan mesin potong jang besar-besar; tiap-tiap hari saja kerdjakan berpuluh-puluh rim kertas : memedat barang, memuat dan membongkarnja. Pada malam hari kalau pekerdjaan sudah selesai dan sesudah mandi jang lamanja ditentukan enam menit, ja, enam menit dan membersihkan badan karena kotor oleh minjak mesin jang melekat pada tangan kai dan pipi; dan kalau saja sudah makan, makan nasi merah dengan sambal jang sederhana, maka besarlah hati saja karena kembali kedalam bilik ketjil jang besarnja 1,50 x 2,50 M sehingga dapat melepaskan lelah pekerdjaan sehari-hari. Badanku sudah letih lesu, dan otakku seolah-olah tertidur (lethargie), sehingga kitag jang terbuka dihadapanku tidak terbatja lagi, dan beladjarpun tak ada hasilnja. Sebentar lagi pukul Sembilan tjahja (maksudnya lampu) mesti digelapkan dengan tidak dapat disangkal lagi; baiklah begitu, karena hari ini sudah bekerdja keras, dan besoknja bekerdja keras lagi, dan kedua-duanja memaksa saja mesti lekas pergi tidur.
Boleh djuga pergi kebilik tempat bermain-main, kerecreatie-zal. Disana boleh bermain dan bermain tjatur; dapat membatja kitab perkara sport perdagangan dan kitab jang berdasarkan agama; membatja ditengah-tengah saudara-saudaraku jang sedang bersuara: dapat djuga berkata-kata. Tetapi hati dan badan jang haus tiadalah dapat dipenuhinja ; itupun menurut perasaanku. Itulah sebabnja, maka saja hanja sekali-kali sahadja pergi kesana; biasanja malam hari saja berkurung dalam bilikku sahadja.
Saja tjoba-tjoba mengusahakan supaja waktu dalam bilik ketjil ini besar hasilnja. Sampai sekarang pertjobaan itu tak ada manfaatnja. Karena tahadi telah saja katakana : saja tak dapat beladjar dengan baik karena badan sudah pajah. Otak seolah-olah dapat penjakit kekurangan darah (anaemie), sehingga tidak banjak jang dapat diterima dan difikirkannja : otakku merasa lekas benar penuh isinja, lekas pajah. Alangkah baiknja sekiranja ada surat kabar. Tetapi segala surat-kabarku ditahan, begitu djuga surat-berkala; sedangkan “d’Orient” tak boleh saja terima.
Bibliotheek rumah kurungan ini lebih dimaksudkan sebagai pelepas lelah dan untuk mempertebal perasaan agama daripada untuk beladjar. Kitab pengetahuan hanja sedikit ; untuk keperluanku, jaitu perkara sosial dan sosiologi, tidak ada sama sekali. Memasukkan buku sendiri hanja diizinkan dengan pemeriksaan keras. Dahulu dalam rumah kurungan di Bandung dapat djuga saja meneruskanku perkara pergaulan hidup dan sedjarah, walaupun dengan beberapa perdjandjian jang berat-berat. Tetapi sekarang peladjaran ini, jaitu untk mengetahui pergerakan pergaulan hidup, sjarat-sjarat pergerakan dan pergaulan orang Timur, semuanja itu terpaksalah saja hentikan, tak dapat diluaskan lagi. Bagaimana djadinja?. Hanjalah ini : Sukamiskin ialah tak lebih daripada suatu rumah kurungan, dan saja ini tak lebih daripada seorang-orang hukuman ; seorang manusia jang mesti menjembah larangan dan suruhan, seorang manusia jang mesti melupakan kemanusiannja. Dahulu dalam rumah tahanan hidupku telah dibatasi, sekarang batasnja bertambah sempit lagi. Segalanja disini dikerdjakan dengan suruhan komando ; makan, pulang balik ketempat bekerdja, makan, mandi, menghisap udara, keluar masuk bilik ketjil, semuanja dikerdjakan seperti serdadu berbaris ; semuanja seolah-olah disamakan dengan suatu deradjat, tempat kemauan pada seekor binatang ternak ; orang hukuman jang didjadikan manusia jang tiada mempunjai kemauan sendiri, seperti binatang ternak. Sungguh sajang benar hati kita kepada Nietzsche! Kalau seorang “Uber-Mensch”, dalam suatu rumah kurungan, jaitu jang lepas dari segala kebaikan dan keburukan, tentulah akan sia-sia belaka. Alangkah heran hatinja, setelah dibatjanja kembali kitabnja, jang bernama “Zarathustra”! Seperti saja ini tinggal dalam bilik ketjil pada malam hari dipandangnja sebagai keburukan jang paling ketjil ; tinggal dalam kandang jang sempit, tempat manusia dapat insjaf akan dirinja, tempat manusia dapat mengemudikan sedikit-sedikit, walaupun dibatasi betul-betul. Saja tentu akan dibenarkan, kalau saja lebih suka dibuang tiga tahun daripada dihukum 2½ tahun dalam rumah kurungan… Tetapi entah dimana ada tertulis kalimat ini : “Walau dimana sekalipun. Patutlah kemadjuan diusahakan!” Hatiku tinggal tetap ; selalu insjaf akan diriku ; tak pernah saja melupakan suara hatiku. Dan selalu saja mengusahakan kemadjuan itu, baik dahulu atau sekarang. Barang siapa jang tidak berusaha menudju deradjat Uber-Mensch, itulah tandanja ia tak tahu akan suruhan kemadjuan. Korban jang sebenar-benarnja dilakukan tentulah tidak akan terbuang-buang sahadja ; bukankah Sir Oliver Lodge telah mengadjarkan “no sacrifice is wasted” atau dalam bahasa Djawa “Djer basuki mawa beja”.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting